Jumat, 24 Juni 2016

Cinta itu Negoisasi? 

Aku masih duduk dikedai itu..
bersama selembar kertas yang sudah tak lagi putih bersih.. 
seperti kisah hidup ini yang kau tulis semaumu, sesukamu.. 
Aku ditemani segelas kopi dingin, dinginnya seperti kepergianmu.. 
Aku mulai mendramatisir semua yang terjadi, mengulang  ngulang cerita yang sama, tak bosan. 
Aku berpikir mengapa aku sebodoh ini, berharap kau datang dan mnikmati minuman yang kita suka. Kopi. minuman pahit yang terasa manis saat bersamamu. 
Aku menyukai apa yang kau suka.
Hingga pukul 22. 00 hanya kekosongan. Hampa. 
Aku ingin sekali memaksa Tuhan membuat Takdir untuk kita. 
begitulah malam seterusnya, kosong. Sepi. 

Hingga pada titik dimana aku tak lagi berharap takdir mempertemukan kita. 
Aku mneruskan hidupku, sibukku, tanpa kamu. Kau menghilang seakan kota kecil ini seperti Negeri dongeng yang hanya ada Aku. Aku. dan Aku. 
Aku hanya ingin mendengarmu bicara, karna kau terlalu bnyak mendengar. Kau terlalu banyak diam.  Diammu menyakitkan.
Aku berkata pada Tuhan "Baiklah, Aku berhenti, Terserah Kau Saja Tuhan, Aku pasrah. "


Kita dipertemukan kembali.
Disaat aku berkeras hati merapikan kenangan. menciptakan cerita baru.
Kau tersenyum, Kau bahagiakah? tentu, kau Makhluk Tuhan yang tak pernah berpikir tentang Aku. bagaimana aku.
Aku belum berhasil memaafkanmu.
Aku bertanya "Apa ini Tuhan? Apakah aku sekuat ini? "
Aku tersenyum getir.
Hidup ini Lucu..
hanya aku yang tak mengerti bagaimana menertawainya.
Kau sempurna, menang.
Menang dari permainan yang Kau buat. Akh kalah tanpa negoisasi..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar